Senin, 28 April 2008

Seputar Pendidikan Islam

SEPUTAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Oleh: Hs. Hasibuan Botung

A. Nilai-nilai Pendidikan Agama Islam

Dunia pendidikan akhir-akhir ini tidak terlepas dari kemajuan di berbagai bidang, baik sains, teknologi, komunikasi maupun bidang lainnya. Kemajuan-kemajuan tersebut tidak semuanya memberikan nilai manfaat pada generasi muda, namun tentu saja banyak sisi negatif yang diakibatkan oleh seiring dengan kemajuan zaman. Kalau setiap orang tidak waspada terhadap ekses negatif kemajuan zaman, maka secara langsung kemajuan zaman itu berpengaruh juga terhadap nilai-nilai, adat budaya, maupun norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

S Trimo dalam Chalijah Hasan mengatakan: “Kemajuan dan perkembangan teknologi yang telah berhasil membuat dunia semakin kecil, membawa pengaruh yang besar pada norma-norma dan system nilai masyarakat, perilaku manusia organisasi, struktur keluarga, mobilitas masyarakat, kebijakan pemerintah, dan sebagainya”.[1] Mencermati beberapa gejala-gejala yang terjadi pada akhir-akhir ini maka tugas guru sebagai pendidik adalah menanamkan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam kepada anak dengan kokoh agar nilai-nilai yang diajarkan kepadanya menjadi sebuah keyakinan yang dapat membentengi diri dari berbagai ekses-ekses negatif.

Ada tiga tanggung jawab guru dalam menanamkan pendidikan agama Islam.

a. Nilai Aqidah

Kata aqidah berasal dari bahasa arab, yaitu aqada-yakidu, aqdan yang artinya mengumpulkan atau mengokohkan, dari kata tersebut dibentuk kata Aqidah. Kemudian Endang Syafruddin Anshari mengemukakan aqidah ialah keyakinan hidup dalam arti khas yaitu pengikraran yang bertolak dari hati.[2]

Pendapat Syafruddin tersebut sejalan dengan pendapat Nasaruddin Razak yaitu dalam islam aqidah adalah iman atau keyakinan.[3]Aqidah adalah sesuatu yang perlu dipercayai terlebih dahulu sebelum yang lainnya. Kepercayaan tersebut hendaklah bulat dan penuh, tidak tercampur dengan syak, ragu dan kesamaran.

Dalam pembinaan nilai-nilai aqidah ini memiliki pengaruh yang luar biasa pada kepribadian anak, pribadi anak tidak akan didapatkan selain dari orang tuanya. Pembinaan tidak dapat diwakili dengan sistim pendidikan yang matang.[4] Jadi aqidah adalah sebuah konsep yang mengimani manusia seluruh perbuatan dan prilakunya dan bersumber pada konsepsi tersebut. Aqidah islam dijabarkan melalui rukun iman dan berbagai cabangnya seperti tauhid ulluhiyah atau penjauhan diri dari perbuatan syirik, aqidah islam berkaitan pada keimanan. Anak pada usia 6 sampai 12 tahun harus mendapatkan pembinaan aqidah yang kuat, sebab apabila anak telah dewasa mereka tidak terombang-ambing oleh lingkungan mereka. Penanaman aqidah yang mantappada diri anak akan membawa anak kepada pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt.

Abdurrahman An-Nahlawi mengungkapkan bahwa “keimanan merupakan landasan aqidah yang dijadikan sebagai guru, ulama untuk membangun pendidikan agama islam”.[5] Masa terpenting dalam pembinaan aqidah anak adalah masa kanak-kanak dimana pada usia ini mereka memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki pada masa sesudahnya, guru memiliki peluang yang sangat besar dalam membentuk, membimbing dan membina anak, apapun yang diberikan dan ditanamkan dalam jiwa anak akan bisa tumbuh dengan subur, sehingga membuahkan hasil yang bermanfaat bagi orang tua kelak.

Keseluruhan dari implementasi aqidah itu akan terlihat pada rukun iman yang enam yaitu:

1. Iman Kepada allah

Petunjuk ayat yang menyatakan tentang iman kepada Allah antara lain: QS Al-Ikhlas 1-4, QS Asyuura: 11, QS al Hadid: 3, QS al An’am: 101, Qs al ‘Araaf: 54, QS al Furqan: 54, QS al Hajj: 61, QS an Nisaa: 164, QS at Taubah: 6, QS al Hijr: 98, QS an Nisaa: 36, QS al Maidah: 72, QS, al A’raaf: 65, dll

2. Iman Kepada malaikat

Petunjuk ayat yang menyatakan iman kepada malaikat antara lain: QS al Baqarah: 31, 34 dan 248, QS al Imran: 45, 80, 87 dan 125, QS an Nisaa: 97, QS al an ‘Am: 111 dan 158, QS al A’raaf: 11, QS al Anfal: 9 dan 50, dll

3. Iman Kepada Kitab

Petunjuk ayat yang menyatakan iman kepada kitab antara lain: QS al An ‘Am: 109-110, QS al Hadid: 16, QS an Nur: 46, QS Yunus: 1, QS Yusuf 1, QS al Hijr: 1, QS Hud: 1 dan QS Ibrahim: 1.

4. Iman Kepada rasul

Petunjuk ayat yang menyatakan tentang ini adalah: QS al An ‘am: 83-86, QS Yasin: 17 dan 52, QS al Maidah: 80-81, QS al Fath: 29, QS Yunus: 84, QS an Nahl: 36, QS an Nisa: 165, dll

5. Iman Kepada Hari Kiamat

Petunjuk ayat tentang iman kepada hari kiamat adalah: QS al Mujadalah: 212, QS an Nur: 62, QS azZumar: 20, QS Al Furqon: 25, QS ar ruum: 12 dan 55, QS an Nahl: 84 dan 89, QS an naml: 83, QS Yunus: 28, QS al kahfi: 47, QS Fussilat: 19, dll

6. Iman Kepada Qadar Allah

Petunjuk ayat yang menyatakan tentang ini adalah: QS al Hadid: 22, QS ar Ra’d: 11, QS al Qashas: 68, QS Yunus: 107, QS ar Rum: 36, al Ankabut: 62, QS al Imron: 26-27, QS al Insan 2-3, dll.

Dalam menanamkan kepercayaan seperti yang telah disebutkan di atas maka guru sebagai pendidik memiliki tanggungjawab yang berat agar nilai nilai akidah yang terimplementasi melalui rukun iman dapat di pahami dan diyakini oleh anak muridnya.

  1. Nilai Ibadah

1. Arti dan Penghayatan Ibadah

Ibadah adalah suatu wujud perbuatan yang dilandasi rasa pengabdian kepada Allah SWT.[6] Ibadah juga merupakan kewajiban agama islam yang tidak bisa dipisahkan dari aspek keimanan. Keimanan merupakan pundamen, sedangkan ibadah merupakan manisfestasi dari keimanan tersebut. Menurut Nurcholis Madjid:

Dari sudut kebahasaan, “ibadat” (Arab: ‘ibadah, mufrad; ibadat, jamak) berarti pengabdian (seakar dengan kata Arab ‘abd yang berarti hamba atau budak), yakni pengabdian (dari kata “abdi”, abd) atau penghambaan diri kepada Allah, Tuhan yang maha Esa. Karena itu dalam pengertiannya yang lebih luas, ibadat mencakup keseluruhan kegiatan manusia dalam hidup di dunia ini, termasuk kegiatan “duniawi” sehari-hari, jika kegiatan itu dilakukan dengan sikap batin serta niat pengabdian dan penghambaan diri kepada Tuhan, yakni sebagai tindakan bermoral.[7]

Abu A’alal Maudi menjelaskan pengertian ibadah sebagai berikut:

“Ibadah berasal darikata Abd yang berarti pelayan dan budak. Jadi hakikat ibadah adalah penghambaan. Sedangkan dalam arti terminologinya ibadah adalah usaha mengikuti mhukum dan aturan- aturan Allah dalam menjalankan kehidupan sesuai dengan perintahnya, mulai dari akil balig sampai meninggal dunia”.[8]

Dapat dipahami bahwa ibadah merupakan ajaran islam yang tidak dapat dipisahkan dari keimanan, karena ibadah merupakan bentuk perwujudan dari keimanan. Dengan demikian kuat atau lemahnya ibadah seseorang ditentukan oleh kualitas imannya. Semangkin tinggi nilai ibadah yang dimiliki akan semangkin tinggipula keimanan seseorang. Jadi ibadah adalah cermin atau bukti nyata dari aqidah. Dalam pembinaan ibadah ini, firman Allah Swt dalam surat Taha ayat 132

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقاً نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى (طه:132)

Artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, kamilah yang memberikan rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertaqwa”.[9]

Seluruh tugas manusia dalam kehidupan ini berakumulasi pada tanggung jawabnya untuk beribadah kepada Allah swt. Pada usia anak 6 sampai 12 tahun bukanlah masa pembebanan atau pemberian kewajiban, tetapi merupakan masa persiapan latihan dan pembiasaan, sehingga ketika anak memasuki usia dewasa, pada saat mereka mendapatkan kewajiban dalam beribadah, segala jenis ibadah yang Allah wajibkan dapat mereka lakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, sebab sebelumnya ia terbiasa dalam melaksanakan ibadah tersebut.

b. Macam-macam Ibadah

Jika ditinjau lebih lanjut ibadah pada dasarnya terdiri dari dua macam yaitu: Pertama; Ibadah ‘Am yaitu seluruh perbuatan yang dilakukan oleh setiap muslim dilandasi dengan niat karena Allah Ta’ala. Kedua; Ibadah Khas yaitu suatu perbuatan yang dilakukan berdasarkan perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Contoh dari ibadah ini adalah

1. Mengucap dua kalimat syahadat

Dua kalimat syahadat terdiri dari dua kalimat yaitu kalimat pertama merupakan hubungan vertical kepada Allah SWT., sedangkan kalimat kedua merupakan hubungan secara horijontal kepada setiap manusia.

2. Mendirikan Shalat

Shalat adalah komunikasi langsung dengan Allah., menurut cara yang telah ditetapkan dan dengan syarat-syarat tertentu.

3. Puasa Ramadhan

Puasa adalah menahan diri dari segala yang dapat membukakan/melepaskannya satu hari lamanya, mulai dari subuh sampai terbenam matahari. Pelaksanaannya di dasarkan pada surat al baqarah ayat 183.

4. Membayar Zakat

Zakat adalah bagian harta kekayaan yang diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan beberapa syarat. Pendistribusiannya di atur berdasarkan Surat at Taubah ayat 60.

5. Naik haji ke Baitullah

Ibadah haji adalah ibadah yang dilakukan sesuai dengan rukun Islam ke 5 yaitu dengan mengunjungi Baitullah di Mekkah.[10]

Kelimah ibadah khas di atas adalah bentuk pengabdian hamba terhadap Tuhannya secara langsung berdasarkan aturan-aturan, ketetapan dan syarat-syaratnya.

Setiap guru atau pendidik di sekolah mestilah menanamkan nilai-nilai ibadah tersebut kepada anak didiknya agar anak didik tersebut dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ibadah tersebut memiliki pengaruh yang luar biasa dalam diri anak, pada saat anak melakukan salah satu ibadah, secara tidak langsung akan ada dorongan kekuatan yang terjadi dalam jiwa anak tersebut. Jika anak tersebut tidak melakukan ibadah seperti biasa yang ia lakukan seperti biasanya maka dia merasa ada suatu kekurangan yang terjadi dalam jiwa anak tersebut, hal ini karena dilatar belakangi oleh kebiasaan yang dilakukan anak tersebut. Disinilah dapat kita katakan bahwa anak seperti inilah yang mencemaskan orang tua, kalau para orang tua tidak dapat memberikan bimbingan dan pembinaan agama yang mantap.

  1. Nilai Pendidikan Akhlak

Pendidikan Akhlak adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama, karena yang baik menurut akhlak , baikpula menurut agama, dan yang buruk menurut ajaran agama buruk juga menurut akhlak. Akhlak merupakan realisasi dari keimanan yang dimiliki oleh seseorang.

Akhlak berasal dari bahasa arab jama’ dari khuluqun, yang secara bahasa bearti: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.[11]Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa akhlak berhubungan dengan aktivitas manusia dalam hubungan dengan dirinya dan orang lain serta lingkungan sekitarnya. Ahmad Amin merumuskan akhlak sebagai berikut:

“Akhlak ialah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh sebagian manusia kepada yang lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.[12]

Dengan demikian akhlak menurut Ahmad Amin adalah deskripsi baik, buruk sebagai opsi bagi manusia untuk melakukan sesuatu yang harus dilakukannya. Akhlak merupakan suatu sifat mental manusia dimana hubungan dengan Allah Swt dan dengan sesama manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Baik atau buruk akhlak disekolah tergantung pada pendidikan yang diberikan oleh gurunya.

Secara umum ahlak dapat dibagi kepada tiga ruang lingkup yaitu akhlak kepada Allah, Akhlak kepada manusia dan akhlak kepada lingkungan.

  1. Akhlak kepada Allah SWT

Akhlak kepada Allah SWT dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan taat yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada Tuhan sebagai khalik. Karena pada dasarnya manusia hidup mempunyai beberapa kewajiban makhluk kepada khalik sesuai dengan tujuan yang ditegaskan dalam firman Allah SWT. Surat Az-Zariyat ayat 56 yang berbunyi:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ: 56)

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-ku” (Adz Adzariyaat: 56).[13]

Ada beberapa alasan yang menyebabkan manusia harus berakhlak kepada Allah SWT antara lain :

1) Karena Allah yang menciptakan manusia

Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Ath-Thariq ayat 5-7 yang berbunyi:

فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ (5) خُلِقَ مِن مَّاء دَافِقٍ (6) يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ (7) (الطارق: 5-7)

Artinya:" Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa yang diciptakan?” Dia diciptakan dari air yang terpancar yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. (Ath-Thaariq: 5-7).[14]

Oleh karena itu sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia harus berterima kasih dan berbuat sesuai dengan kehendak Allah SWT.

2) Karena Allah yang telah memberikan perlengkapan panca indra berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan hati sanubari, di samping angota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah dalam surat An-Nahal ayat 78 yang berbunyi:

وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (النحل : 78)

Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (An-Nahal: 78).[15]

3) Karena Allah yang menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti: bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang-binatang ternak, dan sebagainya. Firman Allah dalam surat Al-Jaatsiyah ayat 12-13 yang berbunyi :

اللَّهُ الَّذِي سخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (12) وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً مِّنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لَّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (13) (الجاثية :12-13)

Artinya: ”Allahlah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat belayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebahagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukan untukmu apa yang ada di lagit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesunguhnya yang demikian itu benar-benar tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir”. (Al-Jaatsiyah: 12-13).[16]

4) Karena Allah yang memuliakan manusia dengan memberikannya kemampuan menguasai dataratan dan lautan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 70 yakni :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً (70) (الاسراء : 70)

Artinya: “Dan sesunguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”(Al-Isra’: 70).[17]

Apabila manusia tidak mau melaksanakan kewajiban sebagai makhluk bearti telah menentang kepada fitrah kepadanya sendiri, sebab pada dasarnya manusia mempunyai kecendrungan untuk menggabdi kepada Tuhannya yang telah menciptakannya. Tujuan pengabdian manusia pada dasarnya hanyalah mengharapkan akan adanya kebahagian lahir dan batin, dunia dan akhirat serta terhindar dari murka-Nya yang akan mengakibatkan kesensaraan diri sepanjang masa.[18]

Manusia dalam hubungan dengan Allah SWT sebagai pencipta mempunyai cara-cara sehingga pada akhirnya hubungan yang baik dengan Allah dapat dicapai. Adapun cara berakhlak kepada Allah adalah:

a) Tidak menyekutukan-Nya

b) Taqwa kepada-Nya

c) Mencintai-Nya

d) Ridha dan ikhlas terhadap segala keputusan-Nya dan bertaubat

e) Mensyukuri nikmat-Nya

f) Selalu berdo’a kepada-Nya

g) Beribadah

h) Selalu berusaha mencari keridhoan-Nya.[19]

  1. Akhlak terhadap sesama manusia

Manusia sebagai maklhuk sosial tidak bisa hidup sendiri tampa bantuan manusia lain, orang kaya membutuhkan pertolongan orang miskin begitu juga sebaliknya, bagaimana pun tingginya pangkat seseorang sudah pasti membutuhkan rakyat jelata begitu juga dengan ratyat jelata, hidupnya akan terkatung-katung jika tidak ada orang yang tinggi ilmunya akan menjadi pemimpin.

Adanya saling membutuhkan ini menyebabkan manusia sering mengadakan hubungan satu sama lain, jalinan hubungan ini sudah tentu mempunyai pengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Maka dari itu, setiap orang seharusnya melakukan perbuatan dengan baik dan wajar, seperti: tidak masuk kerumah orang lain tampa izin, mengeluarkan ucapan baik dan benar, jangan mengucilkan orang lain, jangan berprasangka buruk, jangan memanggil dengan sebutan yang buruk.[20]

Kesadaran untuk berbuat baik sebanyak mungkin kepada orang lain, melahirkan sikap dasar untuk mewujubkan keselarasan, dan keseimbangan dalam hubungan manusia baik pribadi maupun masyarakat lingkungannya.

Adapun kewajiban setiap orang untuk menciptakan lingkungan yang baik adalah bermula dari diri sendiri. Jika tiap pribadi mau bertingkah laku mulia maka terciptalah masyarakat yang aman dan bahagia. Maka dari itu, yang termasuk cara berakhlak kepada sesama manusia adalah :

1). Menghormati perasaan orang lain

2). Memberi salam dan menjawab salam

3). Pandai berteima kasih

4). Memenuhi janji

5). Tidak boleh mengejek

6). Jangan mencari-cari kesalahan

7). Jangan menawarkan sesuatu yang sedang ditawarkan orang lain.[21]

Sebagai individu manusia tidak dapat memisahkan diri dari masyarakat yaitu tugas yang dilaksanakan untuk keselamatan dan kemaslahatan masyarakat tersebut, serta tangung jawab atas kelakuannya di masyarakat dan dihadapan tuhannya.

Pada hakekatnya orang yang berbuat baik atau berbuat jahat/tercela terhadap orang lain adalah untuk dirinya sendiri. Karena orang lain akan senang berbuat baik kepada kita jika kita berbuat baik kepa orang itu. Ketingian budi pekerti yang didapat seseorang menjadikannya dapat melaksanakan kewajiban dan dan pekerjaan dengan baik dan sempurna sehingga menjadikan orang itu dapat hidup bahagia, sebaliknya apabila manusia buruk akhlaknya, maka hal itu sebagai pertanda keserasian dan keharonisan dan pergaulannya sesama manusia lainnya.

  1. Akhlak terhadap lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda yang tak bernyawa.

Manusia sebagai khlifah dipermukaan bumi ini menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam yang mengandung pemeliharaan dan bimbingan agar setiap maklhuk mencapai tujuan penciptaanya. Sehingga manusia mampu bertangung jawab dan tidak melakukan kerusakan terhadap lingkungannya serta terbiasa melakukan yang baik, indah, mulia, terpuji untuk menghidari hal-hal yang tercela. Dengan demikian terciptalah masyarakat yang aman dan sejahtera.

Pada dasarnya faktor bimbingan pendidikan agama terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua di rumah dan guru disekolah akan dapat berpengaruh terhadap pembentukan akidah, ibadah, dan akhlak siswa yang baik.

B. Proses Belajar Mengajar

1. Pengertian Pembelajaran

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003, “pembelajaran sebagai proses interaksi peserta didik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.[22]

Menurut Uzer Usman, Proses belajar mengajar adalah “suatu yang mengandung rangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu”.[23]

Pembelajaran dapat juga diartikan suatu upaya untuk mengarahkan timbulnya perilaku belajar pebelajar, atau dengan ungkapan lain upaya untuk membelajarkan pebelajar.[24] Lebih lanjut Dimyati dan Mudjono dalam Sagala mendefenisikan pembelajaran adalah “kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar”.[25]

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi individu dengan lingkungan yang disengaja dikelola sehingga memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku serta kondisi-kondisi khusus tertentu. Pembelajaran menjadikan kegiatan guru secara terprogram yang sudah disain dalam bentuk instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar pada lingkungan belajar.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar adalah proses terjadinya interaksi antara guru dan siswa dalam rangka perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku atau kecakapan secara keseluruhan. Tingkah laku yang dihasilkan dalam proses belajar mengajar dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik maupun faktor yang berasal dari luar diri peserta didik.

Secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu faktor internal dan eksternal. Untuk lebih jelasnya akan penulis jelaskan sebagai berikut:

a. Faktor internal (faktor dari dalam).

Faktor internal adalah keadaan atau kondisi jasmani dan rohani peserta didik. Faktor ini meliputi dua aspek yakni aspek fisiologis dan psikologis. Faktor internal terkait dengan kesehatan jasmaniah dan psikologi.[26] Di bawah ini akan diuraikan beberapa faktor yang terkait dengan faktor internal :

1. Faktor jasmaniah

a). Faktor Kesehatan

Kesehatan sangat penting bagi seseorang dalam melakukan setiap aktivitas, begitu juga halnya dalam proses belajar. Kesehatan akan mempengaruhi hasil dari proses belajar, bagaimanapun guru memberikan pelajaran, namun keadaan anak tidak sehat maka akan membuang waktu dan sebaiknya anak diberi istirahat sampai keadaannya membaik.

Sebagaimana dikatakan oleh Slameto, “proses belajar mengajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu ia juga akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk dan badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan fungsi alat indra serta tubuhnya”.[27] Dengan demikian bisa dipahami bahwa kesehatan juga merupakan salah satu kunci keberhasilan pembelajaran, baik bagi orang yang belajar maupun orang yang memberikan pembelajaran itu sendiri.

b). Cacat Tubuh

Cacat tubuh juga akan mempengaruhi seseorang dalam menerima pelajaran. Misalnya seseorang terganggu pendengaran atau penglihatannya, ia akan sulit mencerna apa yang disampaikan oleh guru. Mereka harus menggunakan alat yang bisa mengatasi masalah yang mereka hadapi. Bagi mereka yang mengalami cacat tubuh seperti buta, tuli dan lain sebagainya hendaknya ditempatkan di sebuah lembaga yang khusus disediakan bagi mereka penderita cacat, agar tujuan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.

2. Faktor Psikologis

Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. Namun, diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial antara lain : intelegensi siswa, perhatian, bakat, motivasi, kematangan dan kesiapan. Selanjutnya akan dijelaskan dibawah ini sebagai berikut :

a. Intelegensi Siswa

Intelegensi adalah “kecepatan merespon terhadap perubahan lingkungan dan kemampuan terhadap perubahan di sekitarnya. Kemampuan untuk menyaring berbagai pemecahan masalah terutama daya tampung untuk mengamati atau memahami hubungan-hubungan baru antara berbagai aspek dari suatu masalah”.[28] Tingkat kecerdasan (IQ) siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Artinya semakin tinggi kemampuan intelegensi seseorang maka semakin besar pula peluang untuk meraih sukses.

b. Perhatian

Perhatian merupakan pemusatan energi psikis yang tertuju kepada objek pelajaran atau dapat dikatakan sebagai banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai aktifitas belajar.[29] Agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara menggunakan pelajaran itu sesuai dengan hobi dan bakatnya.

c. Bakat

Bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melaksanakan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.[30] Dengan demikian seorang siswa yang berbakat dalam bidang tertentu, akan lebih mudah menyerap informasi, pengetahuan, dan keterampilan dalam bidang tersebut dibanding dengan bidang yang lain.

d. Motivasi

Motivasi adalah “keadaan internal organisme, baik manusia maupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu”.[31] Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Bersemangat atau tidaknya peserta didik dalam menerima pelajaran sangat tergantung pada motivasi belajarnya sebagai daya pendorong dan penggerak.

e. Kematangan (maturisy)

Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.[32] Kematangan dapat dikembangkan melalui latihan dan pelajaran. Dengan kematangan yang dimiliki oleh siswa diharapkan adanya kemauan untuk memiliki kecakapan baru demi pertumbuhan di masa yang akan datang.

f. Kesiapan

Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau reaksi. Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan pada mereka sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.

g. Faktor Kelelahan

Kelelahan jasmani dapat terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan tumbuh kecendrungan untuk membaringkan tubuh. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu yang hilang.

Agar siswa dapat belajar dengan baik haruslah menghindari agar jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajar. Untuk itu perlu diusahakan kondisi yang bebas dari kelelahan. Kelelahan baik secara jasmani maupun rohani dapat dihilangkan melalui cara-cara sebagai berikut :

1) Tidur

2) Istirahat

3) Mengusahakan variasi dalam belajar juga bekerja

4) Menggunakan obat-obatan yang bersifat melancarkan peredaran darah

5) Rekreasi dan ibadah yang teratur

6) Olahraga

7) Mengimbangi makanan dengan makanan yang memenuhi syarat kesehatan

8) Jika kelelahan sangat serius, maka segeralah menghubungi seorang ahli.[33]

2. Faktor Eksternal

a. Keluarga

Keluarga merupakan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kepribadian dan pendidikan anak. Oleh karena itu yang bertanggungjawab sepenuhnya terhadap anak di dalam keluarganya adalah orangtuanya. Seperti yang dijelaskan oleh sabda Nabi SAW,

عن ابى هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مامن امولود الايولد على الفطرة فابواه يهودانه و بنصرانه ويشركانه (رواه البخرى)

Artinya : “Dari Abu Hurairah r.a Rasulullah SAW bersabda ; tidak seorangpun bayi yang lahir melainkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanya yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani dan musyrik”. (HR. Bukhari).[34]

Dari penjelasan hadits di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa orang tua sangat berperan dalam pembentukan pribadi dan tingkah laku anak, apakah anak akan bertingkah laku baik atau sebaliknya akan sangat bergantung pada pendidikan yang diberikan orang tuanya.

b. Faktor sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang dilalui oleh anak setelah pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya atau keluarganya. Menurut Suwarno sebagaimana yang dikutip Ramayulis, peranan sekolah antara lain :

1) Memberikan kecerdasan pikiran dan memberi pengetahuan.

2) Memberikan spesialisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

3) Memberikan pendidikan dan pengajaran yang lebih efisien kepada masyarakat.

4) Membantu perkembangan individu menjadi makhluk sosial.

5) Menjaga nilai budaya yang hidup dalam masyarakat dengan jalan menyampaikan kebudayaan tadi.

6) Melatih untuk dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab sebelum ke masyarakat.[35]

Demikian pentingnya peranan sekolah dalam mengembangkan kepribadian seseorang. Oleh sebab itu hendaklah tugas itu dipikul dengan penuh tanggung jawab serta sebagai amanah yang diberikan orang tua kepada pihak sekolah.

c. Faktor Masyarakat

Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan interaksi siswa dalam masyarakat misalnya hubungan dan kegiatan siswa dalam masyarakat, pengaruh mas madia, pengaruh teman bergaul, dan pengaruh bentuk kehidupan dan perilaku masyarakat. Hal-hal ini akan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor intern dan ekstern sangat menentukan keberhasilan proses pendidikan, karena dalam diri peserta didik ada unsur-unsur modal yang sangat perlu diperhatikan dalam rangka tercapainya tujuan pendidikan.

3. Langkah-Langkah dalam Proses Belajar Mengajar

1. Perencanaan Program Pembelajaran

Rencana merupakan titik tolak dalam setiap kegiatan yang akan dilaksanakan. Hal ini tidak terlepas dari kegiatan pendidikan yang didalamnya terjadi proses belajar mengajar. Al-Qur’an menjelaskan tentang pentingnya perencanaan masa depan seperti firman Allah SWT :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (الحشر : 18)

Artinya : “Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S Al Hasyr : 18)[36]

Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap manusia harus merencanakan segala sesuatu untuk masa depannya. Dengan perencanaan itu dia akan dapat berjalan sesuai dengan jalur dan koridor perencanaan sehingga tercapai tujuan yang diinginkan.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan sesungguhnya juga mesti merencanakan kegiatan yang akan dilaksanakan agar dapat mencapai tujuan yang ditetapkan di lembaga itu. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, salah satunya adalah dengan merencanakan program tahunan, peningkatan mutu, target nilai, sarana dan prasarana belajar dan lain-lain.

Menurut Nahwawi sebagaimana yang dikutip Ahmad Sabri rencana yang disusun dalam konteks pendidikan meliputi :

1) Perumusan tujuan yang hendak dicapai.

2) Penentuan bidang/fungsi unit sebagai bagian yang akan melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.

3) Menetapkan jangka waktu yang diperlukan.

4) Menetapkan metode atau cara penyampaian tujuan.

5) Menetapkan alat-alat yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan efisiensi pencapaian tujuan.

6) Merumuskan rencana evaluasi atau penilaian untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan.

7) Menetapkan jumlah dan sumber dana yang diperlukan. [37]

Dari pembahasan di atas dipahami bahwa dalam merencanakan suatu kegiatan ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain waktu, metode, rencana evaluasi serta dana dalam kegiatan yang akan dilaksanakan.

Hal-hal yang perlu direncanakan pada perencanaan program kegiatan ini ialah materi pelajaran, metode pelajaran dan jadwal pelajaran.

a. Merencanakan materi pelajaran

Menurut Karim yang dikutip oleh Subari, bahwa yang dimaksud dengan bahan pengajaran adalah segala bahan yag digunakan guru untuk menyampaikan isi kurikulum.[38]Hal ini berarti bahan pengajaran tidah hanya terbatas pada buku pegangan pokok, tetapi dapat diambilkan dari berbagai sumber yang relevan dengan indicator pencapaian hasil belajar yang telah dirumuskan.

b. Merencanakan metode dan alat pengajaran

Seorang guru dalam melaksanakan interaksi belajar mengajar dituntut memiliki metode dan juga keterampilan memakai metode yang dipilih. Selain itu yang harus dipilih da direncanakan oleh guru adalah ialah alat pelajaran. Hal ini sangat perlu, karena alat pelajaran berfungsi untu memperjelas atau meningkatkan keterampilan siswa terhadap bidang pelajaran yang sedang dipelajari.

c. Menyusun jadwal

Dengan perencanaan jadwal dimaksudkan untuk memberikan arah kepada guru agar tepat waktu, sebab bertambahnya waktu yang digunakan untuk menyelesaikan materi yang sedang disajikan akan mempengaruhi penyelesaian materi pelajaran berikutnya.

2. Melaksanakan tahapan Pembelajaran

Setelah semua perencanaan rampung dengan segala pertimbangan yang dianggap mampu untuk dilaksanakan maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan rencana-rencana tersebut secara terstruktur dan sistematis, dengan mengikuti aturan dan petunjuk perencanaan.

Menurut Sudjana pelaksanaan proses belajar mengajar meliputi tahap sebagai berikut :

1) Tahap Pra Instruksional

Tahap pra instruksional adalah tahap yang ditempuh pada saat memulai proses belajar mengajar, yaitu :

a. Guru menanyakan kehadiran siswa dan mencatat siswa yang tidak hadir.

b. Guru bertanya kepada siswa sampai di mana pembahasan sebelumnya.

c. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasainya.

d. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan bahan yang sudah diberikan.

e. Guru mengulang bahan pelajaran yang lain secara singkat tetapi mencakup semua aspek bahan.

2) Tahap instruksional

Tahap instruksional merupakan tahap pemberian bahan pelajaran dapat diidentifikasikan dengan beberapa kegiatan sebagai berikut :

a. Menjelaskan kepada siswa tujuan pengajaran yang harus dicapai siswa.

b. Menjelaskan pokok materi yang akan dibahas.

c. Membahas pokok meteri yang sudah dituliskan.

d. Pada setiap pokok materi yang dibahas sebaiknya diberikan contoh-contoh yang kongkret, pertanyaan dan tugas.

e. Penggunaan alat bantu pengajaran untuk memperjelas pembahasan pada setiap materi pelajaran.

f. Menyimpulkan hasil dari pembahasan dari semua pokok materi.

g. Tahap evaluasi dan tindak lanjut.[39]

Sedangkan JJ. Hasibuan mengemukakan tahap mengajar sebagai berikut :

1) Tahap sebelum mengajar, meliputi ;

a. Menyusun tahunan pelaksanaan kurikulum.

b. Program semester/cawu pelaksanaan kurikulum.

c. Program satuan pelajaran dan perencanaan program mengajar.

2) Tahap pengajaran, yaitu interaksi guru dan siswa, meliputi ;

a. Pengolahan data.

b. Penyampaian informasi keterampilan konsep-konsep.

c. Penggunaan tingkah lakuverbal dan non verbal.

d. Cara mendapatkan balikan.

e. Mempertimbangkan prinsip-prinsip psikologis yaitu motivasi dan keterlibatan siswa.

f. Mendiagnosis kesulitan belajar.

g. Menyajikan kegiatan sehubungan dengan perbedaan individu.

h. Mengevaluasi kegiatan interaksi.

3) Tahap sesudah pengajaran, meliputi :

a. Menilai pekerjaan siswa.

b. Membuat perencanaan untuk pertemuan berikut.

c. Menilai kembali proses belajar mengajar.[40]

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tahapan pembelajaran adalah urutan-urutan tertentu yang harus dilaksanakan oleh guru berdasarkan program yang telah disusunnya, sehingga terwujudnya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

C. Peranan Guru Dalam Proses Belajar Mengajar

Berbicara masalah peran dan tanggung jawab guru dalam pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan peran dan tanggungjawab guru secara umum, yang bisa berbeda hanya dari segi pengertiannya. Sedangkan dari segi pelaksanaannya tidak jauh berbeda, bahkan selalu beriringan atau sama. Tanggung jawab adalah tugas yang dilaksanakan sedangkan peranan adalah jalan untuk melaksanakan tugas.

Peran seorang guru dalam pendidikan adalah cakupan dari tanggung jawab guru. Pada umumnya peran guru merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus dilaksanakannya terutama dalam lingkungan pendidikan formal. Beberapa orang ahli memandang bahwa tanggung jawab guru terbatas dalam melaksanakan kebijaksanaan pengajaran dalam kelas. Sedangkan yang lain mengatakan bahwa guru berperan utama dalam pembuatan keputusan mengenai isi dan metode pengajaran. Tanggung jawab guru hanyalah melaksanakan apa yang diperoleh dari pendidikan dalam lembaga atau tempat dinas. Menurut Nana Sujana:

“Yang dimaksud dengan peranan guru ialah keterlibatan aktif seseorang dalam suatu proses kerja, penampilan ia tampil sebagai suatu yang dimainkan atau tingkah laku yang diharapkan dari seseorang pada satu waktu tertentu. Peran guru tersebut bisa dalam lingkungan sekolah dan juga rumah tangga. Dalam rumah tangga yang berperan sebagai guru adalah orang tua sedangkan di sekolah adalah guru itu sendiri. Dalam lingkungan sekolah guru berperan sebagai : “Pemimpin belajar, fasilitator belajar, moderator belajar, motivator belajar dan evaluator belajar”.[41]

Untuk lebih jelas, maka penulis akan menguraikan peran guru di lingkungan sekolah yaitu:

a. Pemimpin belajar

Pemimpin dalam belajar adalah kegiatan dalam rangka merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengontrol kegiatan siswa dalam belajar. Di sini guru sangat dituntut sekali selalu mengawasi semua kegiatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung.

b. Fasilisator belajar

Fasilisator belajar adalah memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya dengan menyediakan sumber dan alat-alat belajar berupa buku, media dan alat peraga lainnya serta menyediakan waktu belajar yang cukup kepada semua siswa.

c. Moderator Belajar

Moderator belajar adalah sebagai pengatur arus kegiatan siswa. Sebagai moderator guru menampung persoalan yang diajukan siswa dan mengembalikannya kepada siswa lain untuk dijawab dan dipecahkan persoalannya.

Ada beberapa kualifikasi yang dituntut dari guru sebagai moderator yaitu :

1. Menguasai persoalan yang dibahas sehingga ia tahu jalan keluar pemecahannya apabila tidak bisa dijawab oleh siswa.

2. Terampil menangkap makna gagasan atau pendapat siswa sehingga bisa menilai apa yang terkandung di dalam pendapat tersebut.

3. Terampil mengkomunikasikan pertanyaan atau jawaban siswa dalam bahasa yang dapat dicerna oleh siswa.

4. Terampil mengkondisikan kelas agar siswa turut serta dalam menanggapi masalah yang diajukan.

5. Menguasai kelas sehingga tahu siswa mana yang harus didorong partisifasinya dalam belajar, siswa mana yang harus dibatasi pembicaraannya agar tidak mendominasi yang lain.

6. Terampil mencari kesimpulan dari pertanyaan sebagai sintesis dari

d. Motivator belajar semua pendapat yang muncul dari siswa.

Motivator belajar adalah guru sebagai pendorong siswa maupun melakukan kegiatan belajar. Guru harus menciptakan kondisi kelas yang merangsang siswa untuk melakukan kegiatan belajar baik secara kelompok, dari dalam diri siswa sendiri maupun dari luar diri siswa sendiri. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sadirman menegaskan bahwa: "Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (Kreativitas), sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar mengajar.[42]

e. Evaluator belajar

Menurut E. Mulyasa, "Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian". Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran oleh peserta didik.[43]

Jadi evaluator belajar adalah bertindak sebagai penilai yang objektif dan komprehensif. Guru berkewajiban mengawasi, memantau proses belajar siswa dan hasil-hasil belajar yang dicapai. Guru juga berkewajiban melakukan upaya perbaikan proses belajar siswa, menunjukkan kelemahan siswa serta cara memperbaikinya baik secara pribadi, kelompok atau kelas.

Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap pendidik atau guru umum maupun guru agama mempunyai peranan sebagai berikut :

a. Sebagai komunikator, yaitu pendidik berfungsi mengajarkan ilmu dan keterampilan kepada pihak didik.

b. Sebagai fasilisator, yaitu pendidik berfungsi sebagai pelancar proses belajar mengajar.

c. Sebagai motivator, yaitu pendidik berperan untuk menimbulkan minat dan semangat belajar peserta didik yang dilakukan secara terus menerus.

d. Sebagai administrator, yaitu pendidik itu berfungsi melaksanakan tugas-tugas yang bersifat administrator.

e. Sebagai konselor, yaitu pendidik berfungsi untuk membimbing peserta didik yang mengalami kesulitan, khususnya dalam belajar.

Menurut Ki Hajar Dewantara Guru mempunyai peran adalah: “Ing ngarso Sungtulodo, artinya jika didepan menjadi contoh; Ing, madio mangunkarso, artinya jiwa ditengah membangkitkan hasrat untuk belajar dan tut wuri handayani, yaitu jiwa ada di belakang memberi dorongan untuk belajar”.[44]

Sedangkan menurut Peter F. Oliver mengemukakan sepuluh (10) peran guru dalam pendidikan, yaitu :

1. “Sebagai pencemarah

2. Sebagai sumber

3. Sebagai fasilisator

4. Sebagai konselor

5. Sebagai pemimpin kelompok

6. Sebagai tutor

7. Sebagai manejer

8. Sebagai pembina laboratorium

9. Sebagai penyusun program

10. Sebagai manipulator”[45]

Dari beberapa kutipan di atas menjelaskan bahwa peranan guru dalam pendidikan sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi yang lebih baik di samping tujuan pendidikan yang diinginkan. Untuk mencapai prestasi belajar siswa yang baik, guru agama juga punya peranan dalam memotivasi belajarnya karena motivasi adalah salah satu faktor yang turut menentukan keefektifan pembelajaran. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaiful Bahri Djamarah, ada beberapa peran guru dalam proses Pembelajaran mengandung banyak hal yaitu sebagai berikut :

1. “Korektor

2. Inspirator

3. Informator

4. Organisator

5. Motivator

6. Inistator

7. Fasilitator

8. Pembimbing

9. Demontrator

10. Pengelola kelas

11. Mediator

12. Supervisor

13. Evaluator”[46]

Dari peranan di atas terlihat bahwa motivasi merupakan salah satu peran yang harus dimiliki oleh seorang guru atau pendidik.

Motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Peserta didik akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Dengan kata lain seorang peserta didik akan belajar dengan baik apabila ada faktor pendorongnya (movitasi). Dalam kaitan ini guru dituntut memiliki kemampuan membangkitkan motivasi belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai tujuan belajar.

Dengan pandangan di atas, guru sangat dituntut sekali untuk meningkatkan peranannya dalam proses pembelajaran. Peranan guru ini akan senantiasa mengabarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa, sesama guru, maupun dengan staf yang lain.

Sebagai pendidik, guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai pengarah dan pembina pengembangan bakat dan kemampuan peserta didik ke arah titik maksimal yang dapat mereka capai. Guru juga berusaha membentuk seluruh pribadi peserta didik menjadi manusia dewasa yang berkemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan mengembangkannya untuk kesejahteraan hidup umat manusia.

Dalam hal ini, peran guru dalam upaya memotivasi peserta didik belajar menurut Nana Syaodik Sukmadinata sebagaimana yang dikutip oleh Nursyamsi antara lain adalah :

1. “Menjelaskan manfaat dan tujuan dari pendidikan

2. Memiliki bahan pelajaran yang betul-betul dibutuhkan peserta didik.

3. Memilih cara penyajian yang bervariasi

4. Memberikan sasaran dan kegiatan yang jelas

5. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk sukses

6. Berikan kemudahan dan bantuan dalam belajar

7. Berikan pujian, ganjaran dan hadiah

8. Penghargaan terhadap pribadi anak.”[47]

B. Tugas dan Tanggung jawab Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran

1. Tugas dan Tangungjawab Guru

Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar (PBM) masih tetap memegang peranan yang sangat penting. Peranan guru dalam PBM tidak bisa digantikan oleh mesin-mesin komputer yang moderen sekalipun. Masih terlalu banyak unsur manusiawi, sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan dan lain-lain. Seorang guru akan sukses melaksanakan tugas apabila ia profesional dalam bidang keguruannya. Di samping itu tugas seorang guru mulia dan mendapat derajat yang tinggi yang diberikan Allah SWT disebabkan mereka mengajarkan ilmu kepada orang lain.

Salah satu faktor yang paling menentukan dalam proses pembelajaran di kelas adalah guru. Tugas guru yang paling utama adalah mengajar dan mendidik. Sebagai pengajar guru merupakan peranan aktif (medium) antara pesta didik dengan ilmu pengetahuan.”[48] Secara umum dapat dikatakan bahwa tugas dan tanggungjawab yang harus dilaksanakan oleh guru adalah mengajak orang lain berbuat baik. Tugas tersebut identik dengan dakwah islamiyah yang bertujuan mengajak umat Islam untuk berbuat baik. Di dalam Al-Qur’an Ali Imran ayat 104 Allah berfirman:




Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”[49]

Profesi seorang guru juga dapat di katakan sebagai penolong orang lain, karena dia menyampaikan hal-hal yang baik sesuai dengan ajaran Islam agar orang lain dapat melakasanakan ajaran Islam. Dengan demikian akan tertolonglah orang lain dalam memahamin ajaran Islam. Musthafa Al-Maraghi mengatakan ”Orang yang diajak bicara dalam hal ini adalah umat yang mengajak kepada kebaikkan, yang mempunyai dua tugas, yaitu menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat mungkar”[50], Dalam tafsir Al-Azhar, diterangkan bahwa: “Suatu umat yang menyediakan dirinya untuk mengajak atau menyeru manusia berbuat kebaikan, menyuruh berbuat yang ma’ruf yaitu, yang patut, pantas, sopan, dan mencegah dari yang mungkar.[51]

Berdasarkan ayat dan tafsir di atas dapat dipahami bahwa dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, guru berkewajiban membantu perkembangan anak menuju kedewasaan yang sesuai dengan ajaran Islam, apalagi di dalam tujuan pendidikan terkandung unsur tujuan yang bersifat agamis, yaitu agar terbentuk manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Agama datang menuntun manusia dan memperkenalkan mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar, oleh karena itu hendaklah guru agama menggerakkan siswa kepada yang ma’ruf dan menjauhi yang mungkar, supaya siswa bertambah tinggi nilainya baik disisi manusia maupun dihadapan Allah.

Bila diperhatikan secara lebih jauh, tugas dan tanggung jawab yang mestinya dilaksanakan oleh guru yang telah dijelaskan pada firman Allah di atas intinya adalah mengajak manusia melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Menurut M. Ja’far bahwa “Tugas dan tanggung jawab guru menurut agama Islam dapat diidentifikasikan sebagai tugas yang harus dilakukan oleh ulama, yaitu menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar”.[52] Hal ini menunjukkan adanya kesamaan tugas yang dilaksanaan guru agama dengan mubaligh/da’i, melaksanakan tugasnya melalui jalur pendidikan luar jalur sekolah (non formal).

Rasulullah bersabda:

و عن عبد الله عمرو بن العاص رضى الله قال : بلغوا عنى ولو آية (رواه البخارى)

Artinya : “Dari Abdullah bin Amru bin Ash r.a dia berkata: Bersabda Nabi SAW, sampaikanlah dari ajaranku walaupun satu ayat. (HR. Bukhari)

Berdasarkan hadis di atas dapat dipahami bahwa tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh orang yang mengetahui termasuk pendidik/guru adalah menyampaikan apa yang diketahuinya (ilmu) kepada orang yang tidak mengetahui. Guru merupakan pemimpin pendidikan dalam melaksanakan proses belajar mengajar, guru harus dapat mempertanggung jawabkan terhadap Allah atas kepeimipinannya sebagaimana terdapat dalam hadis yang berbunyi:

حديث عبد الله بن عمرى رضى الله عنهما عن النبي صلى الله وسلم قال : كلكم راع وكلكم مسؤل عن راعية (رواه البخارى)

Artinya : ”Hadis Abdullah bin Umar r.a bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda “Setiap kamu adalah pemimpin yang akan diminta pertangguna jawaban atas kepemimpinannya[53]

Berdasarkan hadis di atas dapat dipahami bahwa tanggung jawab dalam Islam bersifat peribadi dan sosial. Dalam pendidikan Formal (sekolah) guru adalah pemimpin di dalam kelas yang bertanggung jawab tidak hanya terhadap perbuatannya, tetapi juga terhadap perbuatan orang-orang yang berada di bawah perintah dan pengawasannya yaitu siswa.

Apabila dilihat dari rincian tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh guru terutama guru pendidikan agama Islam, M Athiyah Al-Abrasyi yang mengutip pendapat Imam Ghazali mengemukakan bahwa:

1. Harus menaruh rasa kasih sayang terhadap murid dan memberlakukan mereka seperti perlakuan anak sendiri.

2. Tidak mengharapkan jasa ataupun ucapan terima kasih, tetapi bermaksud dengan mengajar itu mencari keridhoan Allah dan mendekatkan diri kepada tuhan.

3. Berikanlah nasehat kepada murid pada tiap kesemptatan, bahkan gunakanlah setiap kesempatan itu untuk menasehati dan menunjukinya

4. Mencegah murid dari sesuatu akhlak yang tidak baik dengan jalan sendirian jika mungkin dan dengan jalan terus terang, dengan jalan halus dan jangan mencela

5. Seorang guru harus menjalankan ilmunya dan jangan berlainan kata dengan perbuatannya.[54]

Ahmad Tafsir membagi tugas-tugas yang dilaksanakan oleh guru antara lain adalah:

1. Wajib mengemukakan pembawaan yang ada pada anak dengan berbagai cara seperti observasi, wawancara, melalui pergaulan, angket dan sebagainya.

2. Berusaha menolong anak didik mengembangkan pembawaan yang baik dan menekankan pembawaan yang buruk agar tidak berkembang.

3. Memperlihatkan kepada anak didik tugas orang dewasa dengan cara memperkenalkan kepada anak didik tugas orang dewasa dengan cara memperkenalkan berbagai keahlian, keterampilan, agar anak didik memilikinya dengan cepat.

4. Mengadakan evaluasi setiap waktu untuk mengetahui apakah perkembangan anak didik berjalan dengan baik.

5. Memberikan bimbingan dan penyuluhan tatkala anak didik melalui kesulitan dalam mengembangkan potensinya.[55]

Berdasarkan pendapat yang dikemukakan di atas dapat diketahui tugas dan tanggung jawab guru bukan hanya mengajar atau menyampaikan kewajiban kepada anak didik, akan tetapi juga membimbing mereka secara keseluruhan sehingga terbentuk kepribadian muslim.

Sehubungan dengan hal itu Zainal Abidin juga menegaskan bahwa” Tugas dan tanggung jawab utama yang harus dilaksanakan oleh guru, terutama guru agama pendidikan agama Islam adalah membimbing dan mengajarkan seluruh perkembangan kepribadian anak didik pada ajaran Islam.[56] Menurut Al-Ghazali guru harus memiliki akhlak yang baik, karena anak-anak didiknya selalu melihat pendidiknya sebagai contoh yang harus diikutinya.[57]

Sedangkan Nur Uhbayati mengemukakan tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh pendidik (guru) antara lain:

1. Membimbing anak didik kepada jalan yang sesuai dengan ajaran agama Islam

2. Menciptakan situasi pendidikan keagamaan yaitu suatu keadaan di mana tindakan-tindakan pendidikan dapat berlangsung dengan hasil yang memuaskan sesuai dengan tuntutan ajaran Islam.[58]

Pada sisi lain Samsul Nizar mengungkapkan tentang rangkaian tugas guru dalam mendidik: “rangkaian mengajar, memberikan dorongan, memuji, menghukum, memberikan contoh, membiasakan.[59] Imam Barnadib menambahkan dengan tugas guru terkait dengan perintah, larangan, menasehati, hadiah, pemberian kesempatan, dan menutup kesempatan.[60] Dengan demikian dapat dipahami bahwa tugas pendidik bukan hanya sekedar mengajar, di samping itu bertugas sebagai motivator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar, sehingga seluruh potensi peserta didik dapat teraktualisasi secara baik dan dinamis.

2. Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata yakni” Pengelolaan” dan “Kelas”. Pengelolaan berasal dari kata “kelola” ditambah awalan “pe dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “Manajemen”, yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.[61] Dewasa ini istilah manjemen sering diterjemahkan dengan pengelolaan yaitu “Pengelola atau mengurus sesuatu yang dikelola dapat berjalan lancar, efektif dan efisien.[62] Sementara Siagian mengatakan pengelolaan adalah “kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka mencapai tujuan kegiatan orang lain.[63] Dari pendapat yang telah dikemukakan di atas, pengelolaan sangat memerlukan keahlian atau keprofesionalan yang meliputi banyak kegiatan yang semuanya itu menghasilkan hasil akhir, yang memberi informasi bagi penyempurnaan kegiatan yang dilaksanakan.

Kelas menurut Oemar Hamalik, yang penulis kutip dari Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain adalah suatu kelompok orang (anak didik) yang melakukan kegiatan belajar bersama, yang mendapat pengajaran dari guru. Dengan kutipan di atas dapat dipahami bahwa kelas adalah semua siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama. Menurut Hadari Nawawi pengertian kelas adalah:

“Kelas dalam arti sempit ruangan yang dibatasi dengan empat dinding, tempat sejumlah siswa mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekedar menunjukkan pengelompokkan siswa menurut tingkat perkembangannya yang antara lain didasarkan pada batasan umum kronologis masing-masing. Kelas dalam arti luas yakni satu kesatuan yang diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan”.[64]

Made Pidarta, Pengelolaan kelas adalah “proses seleksi dalam mnggunakan alat-alat yang tepat terhadap problem situasi pengelolaan kelas”.[65] Selanjutnya Hadari Nawawi mengemukakan pula sebagai berikut “ pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kuruikulum dan perkembangan siswa.[66]

Sedangkan Suparmo mengemukakan pengelolaan kelas itu dipandang sebagai: “serangkaian aktivitas guru dalam menampilkan tingkah laku siswa yang kurang baik dan mengurangi atau menekan tingkah laku siswa yang kurang baik, menciptakan hubungan baik antara individu dengan keadaan sosio-emosional yang sehat serta membantu, memelihara organisasi yang efektif dan produktif.”[67]

Conny Semiawan mengemukakan bahwa keberhasilan pengajaran dalam arti tercapainya tujuan instruksional sangat tergantung pada kemampuan guru mengatur kelas. Kelas yang baik dapat menciptakan situasi yang memungkinkan anak belajar sehingga merupakan awal dari keberhasilan pengajaran.[68]

Berdasarkan pendapat para pakar di atas, maka dapat dipahami bahwa pengelolaan kelas itu adalah seperangkat kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim emosional yang positif serta mengembangkan dan mempertahankan suasana kelas yang efektif.

Pengelolaan yang dilakukan oleh guru adalah menciptakan suasana di dalam kelas agar terjadi interaksi belajar mengajar yang dapat memotivasi siswa dengan sungguh-sungguh. Untuk itu, guru agama seyogyanya memiliki kemampuan untuk melakukan interaksi belajar mengajar yang baik, salah satu kemampuan yang sangat penting adalah kemampuan untuk mengelola kelas. Di antaranya adalah menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya ke kondisi yang optimal jika terjadi gangguan, baik dengan cara mendisiplikan siswa atau mengatur tata ruang kelas yang memadai untuk pengajaran dan menciptakan iklim belajar yang serasi.

Pengelolaan kelas meliputi dua hal, yaitu pengeloaan yang meliputi siswa dan pengelolaan fisik (ruangan, perabot dan alat pelajaran).[69] Pengelolaan kelas yang menyangkut siswa dngan menciptakan suasana belajar yang serasi, guru harus mampu menangani dan mengarahkan tingkah laku siswa agar tidak merusak suasana kelas. Apabila sekiranya terdapat tingkah laku siswa yang kurang baik, misalnya siswa nakal, mengantuk atau mengganggu teman yang lain, guru harus mengambil tindakan yang tepat dan menghentikan tingkah laku siswa tersebut kemudian mengarahkan kepada yang lebih baik.

Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil belajar. Guru harus dapat mendesain dan mengatur ruangan tempat belajar agar semua siswa bergerak dengan leluasa tidak berdesak-desakan dan tidak saling mengganggu antara siswa yang satu dengan siswa yang lain pada saat melakukan aktivitas belajar. Misalnya bagaimana mengatur meja dan tempat duduk, menempatkan papan tulis, tempat meja guru dan mengatur hiasan dinding dalam kelas. Di samping itu kelas harus selalu dalam keadaan bersih.

3. Tujuan Pengelolaan Kelas

Setiap pekerjaan yang dilakukan selalu berorientasi pada pencapaian tujuan, begitu juga halnya dengan pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru. Pengelolaan kelas harus benar-benar merealisasi tujuan, untuk mencapai tujuan yang dimaksud guru mempunyai wewenang mengatur kelas. Pengelolaan kelas yang dilakukan akan mempertahankan kondisi kelas yang memungkinkan siswa dapat belajar dengan baik sehingga mencapai tujuan yang telah diterapkan.

Menurut JJ Hasibuan adalah:

“Pengelolaan kelas yang dilakukan guru bertujuan “Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya, membantu siswa untuk mengerti tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas dan memahami bahwa teguran guru merupakan sesuatu peringatan bukan kemarahan, menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas tingkah laku yang sesuai dengan aktivitas kelas.”[70]

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung pada tujan pendidikan, secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah “menyediakan fasilitas yang bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas.[71]

Sementar menurut Uzer Usman dalam bukunya Menjadi Guru Profesional mengemukakan “tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar dan mengajar agar mencapai hasil yang baik.[72] Dari beberapa kutipan di atas dapat dipahami bahwa “tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap siswa di kelas itu dapat belajar dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran yang efektif dan efisien. Sebagai indikator dari kelas yang efektif apabila:

1. Bila situasi kelas memungkinkan siswa belajar dengan maksimal, fungsi kelompok harus diminimalkan.

2. Manajemen kelas memberi fasilitas untuk mengembangkan kesatuan dan kerjasama

3. Siswa harus diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang memberi efek kepada hubungan dan kondisi belajar.

4. Siswa harus di bimbing dalam menyelsaikan ketegangan dan perasaan tertekan.

5. Diciptakan persahabatan dan kepercayaan yang kuat antar siswa.

Untuk menciptakan kelas yang efektif dan efisien, menurut penulis keharmonisan hubungan siswa dan guru berpengaruh dalam mengelola kelas. Guru yang apatis terhadap siswa membuat siswa menjauhinya, siswa lebih banyak menolak kehadiran guru, rasa benci akan tertanam dalam diri siswa tersebut, akan menyebabkan bahan pelajaran sukar diterima dengan baik. Kecenderungan sikap siswa yang negatif lebih dominan, sifat ini dapat menciptakan jurang pemisah antara guru dan siswa.

Guru semestinya merupakan pribadi yang disukai, memperhatikan siswa, selalu terbuka, selalu tanggap terhadap keluhan siswa, mendengarkan kesulitan siswa dan selalu bersedia mendengarkan saran dan kritikan dari siswa

Menurut Ivor K. Davies, ada empat fungsi guru dalam mengelola kelas yaitu merencanakan, mengkoordinasikan, memimpin dan mengawasi.[73] Merencanakan merupakan pekerjaan seorang guru untuk menyusun tujuan belajar, mengkoordinasikan pekerjaan seorang guru mengatur dan menghubungkan sumber-sumber belajar sehingga dapat mencapai tujuan belajar dengan cara yang paling efektif dan efisien. Memimpin merupakan pekerjaan seorang guru untuk memotivasi sehingga siswa siap untuk mencapai tujuan belajar, sedangkan mengawasi adalah pekerjaan guru meninjau sejauh mana penguasaan siswa terhadap materi yang telah diberikan tersebut.

4. Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas

Dalam rangka memperkecil gangguan pengelolaan kelas dapat dipergunakan prinsip-prinsip; a. hangat dan antusias, b. tantangan, c. bervariasi, d. keluwesan, e. penekanan pada hal-hal yang positif dan f. penanaman disiplin.

a. Hangat dan Antusias

Hangat dan antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab dengan anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktivitasnya, akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.

b. Tantangan

Bahan yang menantang bisa meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.[74] Bahan ini bertujuan untuk memancing peserta didik untuk bergairah dalam belajar.

c. Bervariasi

Penggunaan media, atau alat Bantu, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan , meningkatkan perhatian anak didik. Kevariasian dalam penggunaan hal di atas merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan yang efektif dan menghindari kejenuhan.

d. Keluwesan

Keluwesan tingkah laku untuk mengubah strategi mengajar dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan anak didik serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif.

e. Penekanan pada hal-hal yang positif

Dalam mengajar dan mendidik guru menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal-hal yang positif dilakukan guru terhadap tingkah laku anak didik yang positif dan mengomeli tingkah laku yang negatif.

f. Penanaman disiplin

Tujuan akhir pengelolaan kelas agar anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Guru mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri. Guru hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab.[75]

C. Pendekatan guru dalam Pembelajaran

Sadar atau tidak, setiap guru saat mengajar akan menerapkan teknik-teknik pengelolaan kelas, teknik yang bisa digunakan adalah nasehat, teguran, larangan, ancaman, teladan, tata krama, perintah dan hadiah. Selain itu ada guru yang mengelola kelas dengan cara melaksanakan secara ketat tata tertib sekolah tanpa memperhatikan emosional siswa, ada yang mengandalkan sikap otoriter, ada yang membiarkan siswa secara penuh berbuat sesuka hati, ada pula yang tergantung pada teori yang terdapat dalam buku tertentu.

Tugas guru dalam proses belajar mengajar ialah “Direktur belajar”.[76] Artinya setiap guru harus pandai-pandai mengarahkan kegiatan belajar agar mencapai sebagaimana yang telah ditetapkan dalam sasaran kegiatan proses belajar mengajar. Untuk itu dalam melaksanakan proses belajar mengajar di dalam kelas, maka diperlukan beberapa pendekatan.

Menurut James Cooper yang dikutip oleh J.J Hasibuan mengemukakan ada tiga pendekatan yang digunakan dalam mengelola kelas, pendekatan itu adalah pendekatan modifikasi tingkah laku, pendekatan iklim emosional dan pendekatan proses kelompok.[77] Pendekatan pendekatan yang mesti dilakukan oleh guru terhadap murid dalam setiap kegiatan pembelajaran adalah:

1. Pendekatan Modifikasi Tingkah Laku

Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik dengan baik, dan mencegah tingkah laku yang tidak baik. Pendidikan berdasrkan perubahan tingkah laku (Behavior Modivication Approach) bertolak dari sudut pandang psikologi Behavioral yang mengemukakan asumsi sebagai berikut:

    1. Semua tingkah laku siswa yang baik dan yang kurang baik merupakan hasil proses belajar.
    2. Di dalam proses belajar terdapat proses psikologi yang fundamental berupa penguatan positif ( positive reinforcement), hukuman, penghapusan (Extincion) dan penguatan negatif (Negative reinforcement).[78]

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami asumsi pertama guru harus menyusun program kelas dan suasana yang dapat merangsang terwujudnya proses belajar yang memungkinkan siswa mewujudkan tingkah laku yang baik menurut ukuran noram yang berlaku di lingkungan sekitarnya. Sedangkan asumsi kedua mengharuskan seseorang guru melekukan usaha mengulang- ulangi program atau kegiatan yang dinilai baik (stimulus) bagi terbentuknya tingkah laku tertentu, terutama di kalangan siswa.

Untuk membina tingkah laku yang dikehendaki guru harus memberi penguatan positif (memberi stimulus positif sebagai ganjaran), atau penguatan negatif (menghilangkan hukuman suatu stimulus yang negatif). Sedangkan untuk mengurangi tingkh laku yang tidak dikehendaki, guru menggunakan hukuman (memberikan stimulus negatif), penghapusan (pembatalan ganjaran sebenarnya diharapkan peserta didik) atau time out (membatalakan kesempatan pada peserta didik untuk memperoleh ganjaran, baik berupa “barang” maupuan berupa kegiatan yang disenaginya).

Penguatan positif (Positif reinforcement), diartikan sebagai respon terhadap suatu tingkah laku untuk mendorong berulang kembali tingkah laku positif. Di sini peran guru agam adalah melakukan penguatan yang mendorong siswa untk belajar dengan baik di antaranya adalah “bagus sekali, baik sekali”. Pemberian penguatan (reniforcement) ini dilakukan pada saat siswa berhasil melaksanakan aktivitas atau kegiatan belajar yang dikehendaki, supaya terulang kembali tingkah laku yang dikehendaki tersebut.

Menurut Ali Imran, dalam bukunya Pembinaan Guru di Indonesia, penguatan dapat dilakukan dengan beberapa macam, yaitu: Penguatan verbal (menggunakan kata-kata/kalimat tertentu), penguatan dengan mimik atau gerakan badan, penguatan dengan cara mendekati, penguatan dengan sentuhan, penguatan dengan kegiatan yang menyenagkan dan penguatan dengan simbol atau benda.[79]

Penguatan Negatif (negative Reinforcement), yaitu pengurangan tingkah laku yang tidak menyenangkan di dalam kelas harus diberi sanksi atau hukuman yang meninmbulkan perasaan tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari. Misalnya dengan memberikan tugas pada siswa tersebut.

2. Pendekatan Iklim Sosial Emosional

Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan pada suasana perasaan dan suasana sosial (Sosio Emosional Climate Approach) di dalam kelas sebagai kelompok individu cenderung pada pandangan psikologis klinis dan konseling. Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang baik antara guru dan siswa atau siswa dengan siswa.

Di sini guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi itu, perananya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat, untuk itu ada dua aturan yang dipergunakan dalam pengelolaan kelas:”Iklim Sosial Emosional yang baik adalah hubungan interpersonal yang harmonis antara guru dengan guru, guru dengan siswa dan siswa dengan siswa supaya berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif.[80]

Iklim Sosial Emosional menekanakan pentingnya proses suausana dalam kelas yang demokratis, dan peserta didik diajar bertanggung jawab melalui kesempatan memikul tanggung jawab, diberlakukan sebagi manusia yang dapat secara bijaksana menga,bil keputusan di samping diberi kesempatan memegang konsekuensi sendiri. Menciptakan suasana belajar yang menggairahkan perlu memperhatikan pengaturan ruang belajar atau penataan ruangan kelas.[81]

Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa suasana kelas yang otokratis atau laizes faire hanya menyebabkan peserta didik mengalami frustasi, menarik diri atau bersifat menentang dan kesemuanya itu dapat menghambat lancarnya proses belajar mengajar. Untuk menciptakan hubungan baik dengan siswa, guru perlu menerapkan sikap-sikap tertentu yang efektif, di antaranya adalah sikap terbuka, sikap menerima dan menghargai siswa, sikap dapat membaca situasi apabila terjadi pelanggaran dan sikap demokratis.

3. Pendekatan Proses Kelompok

Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk menciptakan kelas sebagai suatu sistem sosial, dimana proses kelompok merupakan yang paling utama. Peranan guru adalah mengusahakan dengan perkembangan dan pelaksanaan proses kelompok itu efektif. Proses kelompok adalah usaha mengelompokkan anak didik ke dalam beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan individual sehingga tercipta kelas yang bergairah dalam belajar.[82] Dasar dari Group Proses Approach ini adalah psikologi sosial dan dinamika kelompok yaitu:

    1. Pengalaman belajar di sekolah bagi siswa berlangsung dalam konteks kelompok sosial.
    2. Tugas guru terutama adalah memelihara kelompok belajar agar menjadi kelompok yang efektif dan produktif.[83]

Berdasarkan dua asumsi di atas, dapat dipahami bahwa guru dalam penegelolaan kelas selalu mengutamakan kegiatan yang dapat mengikutsertakan seluruh personal di kelas. Dengan kata lain kegiatan kelas harus diarahkan pada kepentingan bersama dan sedikit mungkin pada kegiatan yang bersifat individual. Asumsi kedua harus mampu membentuk dan mengaktifkan siswa, guru harus mampu bekerja sam dalam kelompok yang dilaksanakan secara efektif agar hasilnya lebih baik.

Pendekatan proses kelompok bertolak dari Psiokologi Sosial dan Dinamika Kelompok, dengan dasar bahwa kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien dan berlangsung dalam konteks kelompok, yaitu konteks kelas. [84] Oleh karena itu peranan guru dalam rangka pengelolaan kelas adalah menetapkan kelompok kelas yang mempunyai ikatan yang kuat serta dapat bekerja secara efektif dan efisien.

Pada awal pelajaran para siswa biasanya masih merupakan kerumunan orang yang tujuan pikiran, perasaan yang sangat berbeda. Di sinilah tugas guru dalam pendekatan ini yaitu memandu kepentingan-kepentingan perseorang menjadi kepentingan kelompok dengan ikatan yang kuat dan mampu bekerja sama dalam proses belajar mengajar.

Menurut J.J Hasibuan, dalam bukunya Proses Belajar Mengajar mengungkapkan pendekatan kelompok untuk mempunyai suatu ikatan yang kuat ada beberapa unsur yang diperlukan yaitu”tujuan kelompok, aturan dan pemimpin.”[85] Adapun yang dimaksud masing-masingnya adalah:

a. Tujuan kelompok

Pada tujuan kelompok ini tugas guru adalah mengarahkan para siswa ke tujuan kelas, khususnya tujuan pelajaran. Tujuan yang dapat mendorong siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Oleh karena itu guru perlu merumuskan tujuan yang jelas dan mengkomunikasikan dengan para siswa.

b. Aturan

Aturan yang mampu mengikat siswa menjadi kelompok adalah aturan yang dibuat guru dan siswa, atau minimal disetujui oleh siswa. Bila ada siswa yang tidak menyukai aturan yang akan digunakan dalam kelompok akan mengurangi daya ikat aturan tersebut.

c. Pemimpin

Setiap guru dengan sendirinya akan menjadi pemimpin kelompok siswa di kelas tempat ia mengajar. Sebagai pemimpin, hal yang utama dilakukan adalah menjelaskan tujuan kelompok. Selain itu dalam rangka menciptakan dan memelihara suasana kerja kelompok yang sehat, di antaranya adalah mendorong dan memeratakaan partisipasi, mengusahakan kompromi, mengurangi ketegangan dan memperjelas partisipasi dan menerapkan sanksi.

4. Pendekatan Pengalaman

Pendekatan pengalaman yaitu, pemberian pengalaman keagamaan pada siswa dalam rangka pembinaan nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini siswa diberikan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan baik secara individual maupun kelompok.[86]

Meskipun pengalaman sangat diperlukan dan selalu dicari selama hidup manusia, namun tidak semua pengalaman bersifat mendidik dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, karena ada pengalaman tak mendidik bahkan buruk bagi kehidupan manusia. Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, jika guru tidak membawa anak pada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan akan tetapi menyeleweng dari tujuan itu, misalnya: mendidik siswa agar melakukan tindakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Karena itu pengalaman edukatif berpusat pada satu tujuan yang berarti bagi anak, kontiniu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan dan menambah pengetahuannya.

Pengalaman bagi anak itu merupakan suatu pendekatan pembelajaran. Maka jadilah “Pendekatan pengalaman” sebagai frase baku dan diakui pemakainya dalam pendidikan. Untuk pendidikan agama Islam, pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini siswa diberikan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan,baik secara individu maupun kelompok.

5. Pendekatan Pembiasaan

Pembiasaan adalah alat pendidik, bagi anak yang masih kecil, pembiasaan ini sangat penting karena pembiasaan estetis, perasaan etis, perasaan sosial dan perasaan harga diri dapat dikembangkan sejak dini. Merasa adalah aktualisasi kerja dari hati sebagai materi dalam struktur tubuh manusia, dan merasa sebagai aktifitas kejiwaan ini adalah suatu pernyataan jiwa yang bersifat subyektif. Pengetahuan tentang merasa hanya akan dapat dipahami oleh anak jika dia terbiasa dengan apa yang bias dia lakukan.

6. Pendekatan Rasional

Manusia adalah makhluk yang sempurna diciptakan, manusia bebeda dengan makhluk yang lainnya yang diciptakan oleh Allah. Perbedaannya terletak pada akal. Manusia mempunyai akal sedangkan makhluk lainnya tidak. Jadi, hanya manusia yang dapat berfikir, sedangkan makhluk lainnya sama sekali tidak.

Di sekolah anak dididik dengan berbagai ilmu pengetahuan. Cara berfikir anak dibimbing kearah yang lebih baik sesuai dengan tingkat usia anak, pertimbangan berfikir anak dimulai dari yang abstrak sampai ke yang kongkrit. Pembuktian tentang sesuatu yang berhubungan dengan masalah keagamaan harus sesuai dengan tingkat berfikir anak. Kesalahan pembuktian akan berakibat fatal bagi perkembangan jiwa anak. Usaha yang terpenting bagi guru adalah bagaimana logika berfikir maupun daya nalarnya dapat berkembangan dengan baik sehingga mampu memahami dan menerima kebenaran ajaran agama, termasuk mencoba memahami hikmah-hikmah ajaran agama.

7. Pendekatan Fungsional

Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah bukan hanya sekedar pengisi otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik sebagai individual maupun sebagai makhluk sosial. Anak dapat memanfaatkan ilmunya untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya. Bahkan yang lebih penting adalah ilmu pengetahuan agama yang dipelajari oleh anak dapat berfungsi membentuk kepribadiannya, dan dia mendayagunakan nilai-nilai dari suatu ilmu pengetahuan yang diperolehnya untuk kepentingan hidupnya.

Pelajaran agama yang diberikan di kelas bukan hanya untuk memberantas kebodohan mengisi kekosongan intelektual saja, tetapi untuk di implementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang demikian itu yang hendak dicapai oleh tujuan pendidikan agama di sekolah.[87]

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masiyarakat, (Jakarta,Gema Insani Press, t,th)

Abdul A’alal-maududi, Dasar-Dasar Islam, (Bandung, Pustaka, 1994)

Abdullah Salim, Akhlak Islam (Membina Rumah Tangga dan Masyarakat), (Jakarta: Media dakwah, 1989)

Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996)

A. Mudjab Mahalli, Pembinaan Moral di Mata Al-Gazali, (Yogyakarta: BFE, 1984)

A. Bujirno, Kamus Psikologi, (Semarang : Raja Grafindo Persada, 1996)

Ahmad Al-Musthafa Al-Maraghi, Terjemahan Tafsir Al-Maraghi, Juz IV, (Semarang: Toha Putra, 1986)

Ahmad Rohani HM, Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995)

Ahmad Sabri, Administrasi Pendidikan, (Padang : IAIN IB Press, 2000)

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994)

Ali Imran, Pembinaan Guru di Indonesia, (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1995)

Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2000)

Armen Mukhtar, Wawasan Pendidikan dalam Keluarga, Padang, AIN,”IB”Press,1999)

Aswil Rony, dkk, Alat Ibadah Muslim Koleksi Museum Adhityawarman, (Padang, Bagian Proyek Pembinaan Permuseiman Sumatera Barat, 1999)

Chalijah Hasan, Dimensi-dimensi Pendidikan, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1994)

Connys Semiawan, dkk, Pendidikan Keterampilan Proses, (Jakarta: PT. Gramedia, 1992)

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Toha Putra, 1989)

---------------, Al-Qur’an dan Terjemah, (Bandung: Diponegoro, 2000)

--------------, Al-qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Peterjemahan Al-Qur’an, 1983)

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001)

________, Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (Jakarta: Biro Hukum dan Organisasi Departemen Pendidikan Nasional, 2006)

Endang Syafruddin Anshari, Wawasan Islam Pokok-pokok pemikiran tentang Islam, (Jakarta, Raja Wali, 1990)

E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: PT. Raja Rosda Karya, 2005)

Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. (Jakarta: CV. Haji Masagung, 1989)

Hadeli, Metode Penelitian Pendidikan, (Padang: Baitul Hikmah, 2002)

Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz IV, (Jakarta: PT. Pustaka Panjimas, 1983)

Hamzah Ya’qub, Etika Islam, (Bandung, CV, Diponegoro, 1996)

Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta : 2006)

HM. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994)

Ine I. Amirman Yousda, Penelitian dan Statistik Pendidikan, (Bandung : Bumi Aksara, 1992)

Ismail Ragi al-Faruqi, Tawhid: Its Implication for Thought and Life (Brentwood AS: The International Institute of Islamic Thought, 1982)

Imam Abi Abdullah bin Ismail bin Mughirah Bukhari Shahih Bukhari, (Beirut: Darul Fikr, 1414 H/1994 M)

Ivor K. Davies, Pengelolaan Belajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 1991)

JJ Hasibuan, dkk, Proses Belajar Mengajar, Keterampilan Dasar Belajar Mikro, (Bandung: Remaja Karya, 1989), h. 166

Made Pidarta, Pengelolaan Kelas, (Surabaya: CV. Usaha Nasional, 1983)

Marzuki, Metode Riset, (Jakarta : BPED, 1990)

Mas’oed Abidin, Surau Kito, (Padang, PPIM, 2004)

M.Nur Abdul Hafizh, Mendidik Anak Bersama Rasulullah, (Bandung : Al-Bayan, 1999)

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rpsdakarya, 2002)

Muhaimin dkk, Strategi Belajar Mengajar (Penerapan dalam Pendidikan Agama), Surabaya : CV. Citra Media, 1996)

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Jakarta:PT. Remaja Rosdakarya, 2000)

Muhammad Nur Abdul Hafizh, Mendidik Anak Bersama Rasullullah, penterjemah Kuswa Dani judul asli manhajul al tarbiyah al nabawiyah lil-al thifl, (bandung, albayan, 1997).

Moch. Uzer Usman, Muhammad Jamil, Re-formulasi Rancangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam Menjadi Guru Profesional, (Bandung : Rosdakarya, 1990)

M. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979)

M. Ja’far, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, (Surabaya:Al-Ikhlas, 1992)

---------------, Aspek Pendidikan Islam,(surabaya, al-Ikhlas, 1982)

Nana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Sinar Baru, 1999)

--------------, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Rosdakarya, 1989)

Nasaruddin Razak, Dinul Islam, (Tp,Tt)

Nur Uhbayati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1997)

Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan PeradabaIn, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1995)

Nursyamsi, Psikologi Pendidikan (Padang : Baitul Hikmah Press. 2003)

Piet A. Sahertion dan Idan Aleida Sahertian, Supervisi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 1990).

Ramayulis, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Padang: IAIN Press, 2003)

--------------, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta : Kalam Mulia, 2003)

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006)

Redaksi Grafika, UUSPN No. 20 Th 2003, (Jakarta : Sinar Grafika, 2003)

Sadirman Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996)

--------------, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003)

Shadiq Safahuddin Chaery, Kamus Istilah Agama, (Jakarta: CV. Sich Irma, 1983)

Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 1993)

Siagian, S.P. Filsafat Administrasi, (Jakarta: CV, Gunung Agung, 1985)

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003)

Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa sebagai Pendekatan Edukatif, (Jakarta: Rajawali Pers, 1998)


Suparmo, dkk, Dimensi-dimensi Mengajar, (Bandung: CV. Sinar Baru, 1988)

Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, (Yogyakarta: Andi Ofset, 1993)

Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997)

Syaiful Bahri Djamarah, Guru dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta : Rineka Cipta, 2000)

________, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000)

Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung : Alfa Beta, 2005)

Thamrin Nasution, Pendidikan Remaja, dan Keluarga,(Jakarta,Gema Cita: t.th)

Undang-Undang RI No 20 tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta : Sinar Grafika, 2003)

Winarno Surakhmad, Dasar dan Teknik Research, (Bandung : Tarsito, 1972)

Zahara Idris dan Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan I, (Jakarta : PT. Gramedia, cet ke 2, 1995 )

Zainal Abidin, Kepribadian Muslim, (Semarang: Aneka Ilmu, 1989)

Zakiah Dradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992)

Ziaudin Sardar, The Future of Moslem Civilization (London: Croom Helm, 1978)

Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995)



[1]Chalijah Hasan, Dimensi-dimensi Pendidikan, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1994), h. 201

[2] Endang Syafruddin Anshari, Wawasan Islam Pokok-pokok Pemikiran Tentang Islam, (Jakarta, Raja Wali, 1990), cet-2, h. 24

[3] Nasaruddin Razak, Dinul Islam, h. 119

[4] Muhammad Nur Abdul Hafizh, Mendidik Anak Bersama Rasullullah, penterjemah Kuswa Dani judul asli manhajul al tarbiyah al nabawiyah lil-al thifl, (bandung, albayan, 1997), h. 108

[5]Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta,Gema Insani Press, t,th), h.84

[6]Aswil Rony, dkk, Alat Ibadah Muslim Koleksi Museum Adhityawarman, (Padang, Bagian Proyek Pembinaan Permuseiman Sumatera Barat, 1999), h. 18

[7]Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1995), h. 57

[8] Abdul A’alal-maududi, Dasar-dasar Islam, (Bandung, Pustaka, 1994), h. 107

[9] Departemen Agama RI Al- qur’an dan Terjemahan, h. 492

[10]Aswil Rony, Dkk, Alat Ibada Nuslim, Op. Cit, h. 26-31

[11] Hamzah Ya’qub, Etika Islam, (Bandung, CV, Diponegoro, 1996), h. 11

[12] Ibid, h. 12

[13] Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: CV. Toha Putra, 1989), h. 862

[14]Ibid, h. 473

[15] Depag RI, Ibid, h. 220

[16] Depag RI, Ibid, h.399

[17] Depag RI, Ibid, h. 231

[18] A. Mudjab Mahalli, Pembinaan Moral di Mata Al-Gazali, (Yogyakarta: BFE, 1984), h. 257

[19] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h. 148

[20] Ibid, h. 149

[21] Abdullah Salim, Akhlak Islam (Membina Rumah Tangga dan Masyarakat), (Jakarta: Media dakwah, 1989), h. 155-158

[22] Himpunan Redaksi Grafika, UUSPN No. 20 Th 2003, (Jakarta : Sinar Grafika, 2003), Cet Ke-1, h. 9

[23] Moch. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung : Rosdakarya, 1990), h. 7

[24] Abd. Gafar, Muhammad Jamil, Re-formulasi Rancangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Nur Insani, 2003), h. 17

[25] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung : Alfa Beta, 2005), Cet Kedua, h. 61

[26] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung : Rosda Karya, 2003), h. 132

[27] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003), h. 54

[28] A. Bujirno, Kamus Psikologi, (Semarang : Raja Grafindo Persada, 1996), h. 46

[29] Sardiman. AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h. 46

[30] Muhibbin Syah, op. cit., h. 135

[31] Ibid., h. 136

[32] Slameto, op. cit., h. 58

[33] Ibid., h. 60

[34] Imam Abi Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Bardazibah, Shahih Bukhari, (Beirut : Darul Fikri, t.th) Juz II, h.80

[35] Ramayulis, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta : Kalam Mulia, 2003), h. 141-143

[36] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, (Bandung: Diponegoro, 2000), h.437

[37] Ahmad Sabri, Administrasi Pendidikan, (Padang : IAIN IB Press, 2000), h. 14

[38] Subari, op.cit., h. 58

[39] Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Rosdakarya, 1989), h. 148

[40] JJ. Hasibuan, Proses Belajar Mengajar Keterampilan Dasar Pengajaran Mikro, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1988), h. 29

[41]Nana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Sinar Baru, 1999), h. 32-35

[42]Sadirman Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), h. 142-143

[43]E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: PT. Raja Rosda Karya, 2005), h. 61

[44]Zahara Idris dan Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan I, (Jakarta : PT. Gramedia, cet ke 2, 1995 ), h. 36

[45]Piet A. Sahertion dan Idan Aleida Sahertian, Supervisi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 1990), h. 36-37.

[46]Syaiful Bahri Djamarah, Guru dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta : Rineka Cipta, 2000), h. 43-48.

[47]Nursyamsi, Psikologi Pendidikan (Padang : Baitul Hikmah Press. 2003), h. 121-122

[48]Muhaimin dkk, Strategi Belajar Mengajar (Penerapan dalam Pendidikan Agama), Surabaya : CV. Citra Media, 1996), h. 54

[49] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Toha Putra, 1989), h. 93

[50] Ahmad Al-Musthafa Al-Maraghi, Terjemahan Tafsir Al-Maraghi, Juz IV, (Semarang: Toha Putra, 1986), h. 31

[51] Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz IV, (Jakarta: PT. Pustaka Panjimas, 1983), h. 31

[52] M. Ja’far, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, (Surabaya:Al-Ikhlas, 1992), h. 272

[53] Imam Abi Abdullah bin Ismail bin Mughirah Bukhari Shahih Bukhari, (Beirut: Darul Fikr, 1414 H/1994 M), Juz ke- 13, h. 45

[54]M. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 151

[55]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), h. 79

[56] Zainal Abidin, Kepribadian Muslim, (Semarang: Aneka Ilmu, 1989), h. 29

[57] Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 170

[58] Nur Uhbayati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 72

[59] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 1993), h. 44

[60] Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, (Yogyakarta: Andi Ofset, 1993), h. 40

[61] Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997) h.196

[62] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa sebagai Pendekatan Edukatif, (Jakarta: Rajawali Pers, 1998), h. 7

[63] Siagian, S.P. Filsafat Administrasi, (Jakarta: CV, Gunung Agung, 1985), h. 85

[64] Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. (Jakarta: CV. Haji Masagung, 1989), h. 116

[65] Made Pidarta, Pengelolaan Kelas, (Surabaya: CV. Usaha Nasional, 1983), h. 11

[66] Hadari Nawawi, Loc. cit

[67] Suparmo, dkk, Dimensi-dimensi Mengajar, (Bandung: CV. Sinar Baru, 1988), h. 78

[68] Connys Semiawan, dkk, Pendidikan Keterampilan Proses, (Jakarta: PT. Gramedia, 1992), h. 63

[69] Suharsimi Arikunto, Op. cit, h. 68

[70] JJ Hasibuan, dkk, Proses Belajar Mengajar, Keterampilan Dasar Belajar Mikro, (Bandung: Remaja Karya, 1989), h. 166

[71] Syaiful Djamarah dan Aswan Zain, Op. cit, h. 200

[72] Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rpsdakarya, 2002), h. 10

[73] Ivor K. Davies, Pengelolaan Belajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 1991), h. 35

[74] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Op. cit, h. 207

[75] Ibid, h. 208

[76] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Jakarta:PT. Remaja Rosdakarya, 2000), h. 250

[77] J.J Hasibuan, dkk, Proses Belajar Mengajar , Op. Cit, h. 166

[78] Syaiful Djamarah dan Aswan Zain, Op. cit, h. 202

[79] Ali Imran, Pembinaan Guru di Indonesia, (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1995), cet-1, h. 134

[80] Ahmad Rohani HM, Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h. 141

[81] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, ()Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 174

[82] Syaiful Bahri Djamarah, Aswin Zain, Op. cit, h. 7

[83] Ibid, h. 205

[84] Ibid, h. 143

[85] J.J Hasibuan, Op. cit, h. 177

[86] Ramayulis, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Padang: IAIN Press, 2003), h. 86

[87] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h. 70-77

Tidak ada komentar: